Fenomena Laskar Pelangi

Tidak banyak karya sinema negeri ini yang bisa dipertanggungjawabkan secara estetika sekaligus mampu memberikan inspirasi kepada penonton. Film Laskar Pelangi termasuk yang sedikit itu. Film ini sangat enak ditonton, tapi akan jauh lebih bernilai jika sejumlah kearifan yang tersimpan di dalamnya dijadikan inspirasi untuk bekerja lebih keras menghadapi persoalan riil.

Tiada hero dalam film ini. Yang ada adalah kisah anak manusia biasa-biasa saja, tapi mereka percaya bahwa mimpi merupakan hak setiap orang. Dan, para tokohnya memilih kerja keras untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.

Film besutan Riri Riza ini sudah memecahkan rekor jumlah penonton ketika pemutaran filmnya memasuki hari keempat. Total penonton mencapai lebih dari 300 ribu orang. Ini angka yang belum pernah dicapai film-film laris lain. Sejumlah kalangan memperkirakan Laskar Pelangi akan melampaui rekor penonton Ayat-ayat Cinta yang mencapai 3,8 juta orang selama dua bulan masa pemutaran.

Keberhasilan tersebut tentu tak bisa dilepaskan dari novel dengan judul sama karya Andrea Hirata yang menjadi dasar pembuatan filmnya. Novel terbitan Bentang (Mizan Group) ini pun sukses dalam penjualan. Lebih dari setengah juta eksemplar sudah laku sejak diterbitkan pertama kali. Ada yang mengatakan inilah novel paling berpengaruh di Indonesia saat ini kendati sebagian “priayi” sastra Indonesia mempersoalkan kadar sastranya.

Laskar Pelangi berkisah tentang daya tahan luar biasa 10 anak Belitong yang miskin dalam menempuh pendidikan di tengah keterbatasan ekstrem. Bangunan SD Muhammadiyah tempat mereka belajar, misalnya, demikian rapuh sehingga “bisa saja roboh tersenggol kambing yang ngebet kawin”, demikian metafora Hirata dalam bukunya. Bangunan sekolah itu memang berfungsi sebagai kandang kambing begitu malam tiba.

Dikisahkan betapa ke-10 anak itu selalu saling menguatkan dalam segala keadaan. Seorang murid, misalnya, mesti menempuh jarak 80 kilometer bersepeda setiap hari pulang-pergi ke sekolah. Seorang lainnya, yang mengidap keterbelakangan mental, selalu diterima baik dalam lingkungan mereka.

Mereka dibimbing dua guru yang memandang pendidikan sebagai panggilan jiwa: Ibu Muslimah dan Pak Harfan. Maka, bahkan meskipun dibayar seadanya, mereka ikhlas mencurahkan kasih sayang membimbing Laskar Pelangi.

Tekad dan kerja keras mewujudkan mimpi, itulah kebajikan kisah ini. Dan para penikmat Laskar Pelangi “tercekam” karena ini bukan cerita fiktif. Kemiskinan akut dan 10 anak yang menolak tunduk pada keterbatasan itu benar-benar nyata. Ini kisah sejati Andrea Hirata dan kawan-kawan yang dikemas secara sastra, dan lalu difilmkan Riri dengan apik.

Jika Hirata dan kawan-kawan menolak menyerah, kita tahu nilai itulah yang mestinya diterapkan untuk menangani sejumlah persoalan pendidikan di negeri ini. Di sekitar kita masih ada lebih dari setengah juta anak usia sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah yang putus sekolah. Bangunan sekolah yang memprihatinkan pun masih ditemui di Siberut Utara, Garut, hingga Samarinda.

Dari Belitong kebajikan moral itu telah diajarkan anak-anak yang hidup dalam kemiskinan. Kita dan para pemegang kuasa mesti belajar dari mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: