KEMANA BUAH PUASA KITA?

Written by Dr. Abdurrahman Suparno
Monday, 29 September 2008

Seandainya puasa umat Islam dijalankan sebagaimana mestinya maka hanya dalam waktu yang relatif singkat Indoneisa akan maju dengan pesat dalam pembangunan moral bangsanya. Status takwa yang diberikan Allah swt kepada mereka yang benar-benar bertakwa akan menjadi jaminan tingginya kualitas moral mereka. Karena dalam pandangan Allah swt orang yang paling mulia disisi-Nya adalah orang yang bertakwa. Di bulan puasa umat Islam ramai-ramai menyambut Ramadhan dengan berbagai macam ibadah termasuk tentunya berpuasa. Di seluruh Indonesia masjid-masjid ramai dengan orang-orang beribadah. Namun kenyataan menunjukkan bahwa setelah selesai Ramadhan sebagian besar di antara mereka sama saja, tidak mengalami perubahan yang berarti menuju perbaikan moral.

Saudaraku, semua ritual ibadah yang dituntunkan oleh Allah itu arahnya adalah untuk perbaikan moral orang yang mengamalkannya. Akan tetapi kebanyakan orang terjebak kepada formalitas ritual ibadah, tidak memahami dan menghayati substansi ibadah tersebut. Dalam shalat misalnya, mereka sudah merasa cukup baik bila sudah melaksanakan shalat. Tidak peduli apakah shalatnya sudah menjadikan dia terjauh dari perbuatan keji dan mungkar. Tidak peduli lagi apakah shalatnya telah mengingatkan dia dari perjanjian yang sudah teguh antara dia dengan Allah. Tidak menjadikan dia sadar bahwa dia telah berikrar untuk mempersembahkan hidupnya dan matinya untuk Allah swt semata. Sebaliknya malah mereka merasa sudah cukup baik dengan membandingkan dirinya dengan orang yang tidak shalat. Begitu juga yang terjadi dengan puasa Ramadhan yang mereka lakukan. Kental dengan budaya formalitas tidak makan, tidak minum, dan tidak bersetubuh di siang hari dengan sengaja. Setelah sebulan penuh berpuasa, mereka merasa puas meskipun yang kikir masih tetap kikir, yang dengki masih tetap dengki, dan yang sombong masih tidak menyadari kesombongannya. Maka wajar kalau puasa yang dilakukan umat Islam Indonesia bertahun-tahun tidak menambah ketakwaan mereka. Mereka telah menjual isi puasa untuk mendapatkan kulitnya. Secara syari’at puasa mereka benar, tetapi secara hakekat melenceng dari tujuannya. Lalu kemana buah puasa mereka?

Formalisme telah membelokkan umat Islam dari tujuan ibadahnya. Untuk itu kita perlu mewaspadai kecenderungan hati kita dalam beramal. Jangan hanya sekedar memenuhi syarat syahnya ibadah saja, tetapi semaksimalnya dihayati tujuan ibadah tersebut sehingga berbuah ketakwaan. Perlu adanya perencanaan yang lebih serius untuk membimbing hati kita agar lebih tunduk patuh kepada Allah. Ketunduk-patuhan hati atau ketaatan kita kepada Allah itulah yang akan membawa kita ke sorga. Kemampuan kita menundukkan hawa nafsu kita untuk taat kepada Allah dinilai Allah sebagai satu kemenangan yang besar. Padahal potensi untuk menundukkan hawa nafsu kita kepada Allah sudah diberikan Allah kepada kita. Lalu mengapa kita tidak mau memanfaatkan potensi dan kesempatan tersebut untuk tunduk patuh kepada Allah? Tidakkah kita menyadari bahwa kita PASTI akan MATI? Tidakkah kita menyadari sisa usia kita tinggal sedikit?

Amat sangat rugi kalau kita tidak bisa memanfaatkan sisa usia kita yang tinggal sedikit ini untuk mendapatkan keselamatan akherat. Padahal kalau kita jaga ketaatan kita kepada Allah dan rasul-Nya dalam sisa kita yang mungkin tinggal 10-20 tahun atau 10-20 bulan atau 10-20 hari ini kita akan mendapatkan balasan kehidupan yang bahagia di dalam sorga selama-lamanta. Satu kebahagiaan abadi yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Tidak hanya 10-20 ribu tahun atau 10-20 juta tahun atau 10-20 milyar tahun tetapi kekal selama-lamanya. Namun bila kita bertabiat sebaliknya, tidak taat kepada Allah dan mati dalam ketidak-taatan kepada-Nya, maka sisa hidup kita yang cuma sedikit ini akan ebrbuah SIKSA yang KEKAL selama-lamanya. Ingat bahwa orang-orang yang hidup di jaman nabi Isa yang tidak taat kepadanya, mereka telah disiksa di alam kubur sekitar 2000 tahun. Mereka yang kafir kepada nabi Adam jauh lebih lama lagi. Dan siksa kubur itu belum akan berhenti sebelum dating hari kiamat. Setelah kiamat datang siksaan mereka tidak diringankan tetapi justru berganti dengan siksa neraka yang kekal. Alangkah tololnya kita kalau kita tiak mau memikirkan persoalan ini dengan lebih serius. Hanya orang-orang yang tertipu oleh setan saja yang menganggap enteng persoalan ini. Untuk itu mari kita persiapkan diri lebih serius untuk menghadapi kehidupan sesudah mati agar kita tidak terbelalak nanti. Semoga Allah swt memilih kita untuk menjadi hamba-Nya yang mukhlis dan senantiasa membimbing kita di atas shirothol-mustaqim.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: