Tafsir Surat Al-Faatihah

Thursday, 09 November 2006

بسمِ اللهِ الرَّحمنِ الرَّحيمِ

اَلحمدُ ِللهِ رَبِّ العالمينَ{} الرََّحمنِ الرَّحيمِ {} مالكِ يوْمِ الدِّينَ{}

ِاياكَ نعبدُ وَاِياكَ نستعينُ{} اِهدِنالصرَاطَ المستقيمَ {} صرَاطَ الذِينَ اَنعمتَ عليهمْ غيرِ المغضوْبِ عليْهِمْ وَلاَالضّالينَ{}

Artinya :
1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemuarah lagi maha Penyayang.
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
4. Yang menguasai hari pembalasan.
5. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
6. Pimpinlah kami ke jalan yang lurus.
7. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

َالاَ اُْحْبرِكُ َسُوْرَةًلمْ يُنْزَلْ فِي التَّوْرَاةِ واْلاِجِيْلِ وَاْلقُرْاَنِ مِثْلُهَا؟ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ: قَالَ: هِيَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ اِنَّهَا سَبْعُ الْمَثَانِى وَالْقُرْاَنِ اْلَعِظْيْمِ الَّذِى اُوْتِيْتُهُ
Mafhumnya:
“Sukakah kamu aku beri khabar tentang satu surat yang belum pernah diturunkan sepertinya_semisalnya_ pada kitab Taurat, Injil dan Al qur’an? Kataku (Ubay bin Kaab), “Bahkan ya Rosulullah!” Sabdanya : “Yaitu Faatihatul Kitab, bahwasannya ia tujuh Al Matsani (tujuh yang diulang-ulang) dari Al qur’an yang agung yang telah didatangkannya-Nya kepadaku.”

TAFSIR AL FATIHAH

بِسْمِ الله الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Artinya:
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemuarah lagi maha Penyayang”.
(Al Fatihah :1)

اِذَا قَرَ ءْتُمْ اَلحََْمْدُ ِللهِ فَقْرَءُوْابِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ فَاِنَّمَا اُمُّ الْقُرْانِ وَ سَبْعُ اْلمَثَانِى وَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ اِحْدَى اَيَتِهَا

Artinya :
“Apabila kamu membaca ALHAMDULILLAH (Al Fatihah) maka bacalah olehmu BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM karena sesungguhnya ALHAMDULILLAH (Al Fatihah) itu Ummul Qur’an dan tujuh Al Matsaani dan BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM salah satu dari ayat-ayatnya.”

اَلحْمَْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ{} الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ {}
Artinya :
“Segala pujian bagi Allah, yang memelihara segenap alam. Yang Pemurah lagi Penyayang.” (Al Fatihah :2-3)

اِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحْمَاءَ{رواه الطبرنى}

Artinya :
“Hanyasannya yang dikasihi Allah diantara hamba-hambanya ialah orang-orang yang pengasih.” (Hadits ini dirawikan oleh Thabrani)

َالرَّحِمُوْنَ يَرْحَمُ هُمُ الرَّحْمنُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى اِرْحَمُوْا مَنْ فِى اْلاَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ
Artinya :
“Orang-orang yang pengasih, mereka itu yang dikasihi _Allah_ yang rahman Tabaraka wa Ta’ala : Kasihi olehmu orang-orang yang ada diatas bumi niscaya kamu dikasihi oleh yang di langit.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Hakim dari Hadits Ibnu Umar R.A.)
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ رَحِمَ وَلَوْ ذَبِيْحَةُ عُصْفُوْرٍ رَحِمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ{رواه البخارى}
Artinya :
“Telah bersabda Rasulullah SAW.: “Siapa-siapa yang mengsihi, sekalian dalam menyembelih seekor burung yang kecil niscaya Allah akan mengasihinya pada hari kiamat.” (H.R. Bukhari)

مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنَ{}
Artinya :
“Yang memiliki hari pembalasan (kiamat).” (Al Fatihah : 4)

Pada “MAALIKI” ini ada dua bacaan: Boleh dipanjangkan “MAA”nya, berarti yang memiliki(mempunyai). Kedua dengan “MALIKI” dipendekkan “MA”nya berarti “raja”. Kedua bacaan tersebut sama-sama boleh dibaca dan sah,karena sama-sama ada alasannya. Sekarang manakah manakah yang lebih baik di antara keduanya dan apa pula perbedaannya?
Menurut imam Ar Razy dalam tafsirnya mengatakan orang yang membaca panjang, mempunyai enam macam keterangan. Huruf “MAALIKI” lebih baik dari pada “MALIKI”, karena lebih banyak membaca panjang daripada membaca pendek. Selanjutnya beliau berkata: “Kekuasaan seseorang pada miliknya lebih besar dari kekuasaan raja yang bukan miliknya. Jadi kalau diartikan Allah yang memiliki pada harikiamat berarti Dia berkuasa memperbuat sekehendak-Nya pada hari itu, sebab semuanya di dalam miliknya. Kalau dibaca dengan “MALIKI” hanya berarti menjadi raja pada hari kiamat. Sebagaimana telah dimaklumi kekuasaanraja pada rakyatnya berkurang dari kekuasaan seseorang pada miliknya. Juga seseorang juga dapat mengeluarkan dirinya dari menjadi rakyat raja, kecuali hamba sahaya, dia tidak dapat mengeluarkan diri dengan kemauaannya sendiri dari kepunyaan orang yang memilikinya dan lain-lain.
Keterangan orang yang menyebutkan lebih baik pendek ada tiga macam:
1. Di dalam sebuah negeri banyak didapati orang yang memiliki, tetapi yang menjadi raja hanya dicapai oleh siapa yang paling mulia dan tinggi.
2. Di dalam surat An Naas tersebut.
3. MALIKI lebih pendek daripada MAALIKI. Jadi apabila dapat berhasil dengan yang pendek, apa gunanya dengan yang panjang.

Oleh sebab itu Syeikh Muhammad Abduh menyebut di dalam tafsirnya: “ Bacaan MALIKI lebih bagus, karena arti raja itu khusus yang berakal saja, untuk menyuruh, melarang, dan membalas. Boleh disebut juga “raja manusia” tetapi tidak boleh disebutkan “raja sesuatu”.Apabila di dalam sholat, membaca MALIKI lebih bagus, karena ayat ini mengingatkan si pembaca apa-apa yang akan diterimanya nanti yakni balasan amalannya dari seorang raja pada hari pembalasan, sebab membaca yang demiikiaan itu lebih mempercepat khusyu’ daripada lainnya, meskipun bacaan panjang lebih satu huruf dan lebih pahalanya dan lagi menurut kata hadist:Sesungguhnya bagi si pembaca tiap-tiap huruf ada baginya pahala,” tetapi satu kebaikan yang mendatangkan khusyu’ pada hati lebih baik daripada seratus kebaikan yang kurang mendatangkan khusyu’.
Dapat kita pastikan, bahwa Allah Ta’ala yang memiliki semua makhluk akan membalas mereka baik di dunia maupun di akherat dengan memberi pahala kepada orang yang taat dan beramal baik, menyiksa dan menghinakan setiap orang yang pemalas dan durhaka. Dengan ini seperti kata Tanthawi, sempurnalah tarbiyah dan peraturan alam. Maka apabila sudah diketahui bahwa pujian itu tidak selayaknya bagi yang selain Allah Tuhan yang memiliki dan memelihara alam yang bersifat Rahman dan Rahiim, Tuhan yang akan membalas kebaikan dan kejahatan mereka, baik di dunia maupun di akherat. Maka sekarang seolah-olah hamba itu berseru:”Dialah Tuhan yang bersifat dengan sifat ini yang berbeda dengan yang lainnya”.

MTA Berpendapat :

Pertama-tama sama boleh membaca panjang atau pendek dalam MAALIKI, karena pengertian yang mempunyai atau yang memiliki bagi Allah sudah meliputi segala hal, ya kaya, ya memiliki, ya menguasai. Walaupun MTA tidak menyangkal bahwa MALIKI (MA pendek) yang artinya raja, sedang raja itu pasti punya dan memiliki, namun raja itupun dapat tidak memiliki bahkan tidak menguasai. Ini tentu yang menjadi raja adalah manusia bukan tiap orang yang mempunyai/memiliki dapat menjadi raja. Maka kalaupun akan memakai MALIKI yang pendek, kita pun harus meyakini seyakin-yakinnya kalau tuhan yang menjadi raja tidak seperti manusia.


ا
يَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ{}
Artinya :
“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (Al Fatihah : 5)

Menyembah atau sembah yang dikehendaki dalam bahasa arab ibadah dan ibadah itu ialah “satu perbuatan yang dikerjakan dengan menghinakan diri karena kemuliaan dan membesarkan seseorang dengan sehabis-habisnya dan dengan setinggi-tingginya dalam memuliakan.”

Oleh sebab itu arti IYYAKA NA’BUDU:” kami tidak menyembah seorangpun selain daripada Engkau”, sebab kemuliaan dan kebesaran yang demikian tidak layak dihadapkan kepada apa saja dan siapa saja kecuali kepada yang memberikan nikmat sampai tak terhitungkan ialah Allah SWT.
Sebesar-besar ni’mat yang dikaruniakan Allah ialah hidup, sebagaimana firman Allah:

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِالله اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْ
Artinya :
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu.” (Al Baqarah :28)

Kedua, seluruh yang ada dalam alam ini dijadikan oleh Allah untuk kita (manusia). Perhatikan firman Allah :

هُوَ الَّذِى خَلَقَ لَكُمْ مَا فِى اْلاَرْضِ جَمِيْعًا
Artinya :
“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (Al Baqarah : 29)

Maka oleh karena masalah yang dihasilkan dari alam suflaa(bumi) ini hanya teratur oleh gerak falaqi (matahari dan lain-lain) menurut kebiasaannya. Oleh sebab itu Allah mengiriingi ayat di atas dengan firman-Nya :

ثُمَّ اسْتَوى اِلى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ.

Artinya :
“Kemudian Dia berkehendak (menciptakan ) langit lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Baqarah : 29)

Apabila kita benar-benar merenungkan keadaan nikmat-nikmat Allah ini semuanya kita akan dihadapkan suatu pertanyaan, apakah layak kiranya bagi kita (manusia) menyembah kepada selainnya?
Di semua agama didapati ibadah yang bermacam-macam bagi tiap-tiap pemeluknya, agar tiap-tiap pemeluk dapat mengingat kekuasaan Tuhannya seperti tersebut diatas. Oleh sebab itu ibadah yang syah dan benar harus mempunyai tanda dalam memperbaiki budi pekerti dan mendidik diri. Tanda itu tersusun dari ruh dan ingatan yang telah disebutkan tadi yakni memuliakan (Allah) danmenghinakan diri, maka apabila kelihatannya beribadah tetapi sunyi dari makna yang demikian, itu bukanlah ibadah, itu hanya seperti patung insan dan gambarnya, tetapi bukan insan yang sebenarnya ialah manusia. Misalnya: ibadah shalat yang diperintahkan oleh Allah kepada kita menirikannya bukan semata-mata mengerjakannya saja, karena arti mendirikan, mengerjakan dengan sempurna yang mana nantinya akan berbekas pada diri orang yang mendirikan shalat itu. Apakah bekas mendirikan shalat? Perhatikan firman Allah:

ِانَّ الصَّلاَةَ تَنْهى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ.
Artinya :
“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan)keji dan mungkar.” (Al Ankabut :45)
Dan perhatikan pula firman-Nya:

اِنَّ اْلاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا {}اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا{}وَاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا{}اِلاَّ الْمُصَلِّيْنَ{}
Artinya :
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah . Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia kikir. Kecuali orang-oarang yang mengerjakan sholat,” hingga akhir surat Al Ma’arij.

Kemudian Allah menjadikan siksa-Nya kepada orang yang shalat dengan gerak-gerik dan bacaan-bacaan tetapi lalai dari makna ibadah. Perhatikan firman Allah:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ {}اَلَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُوْنَ{}اَلَّذِيْنَ هُمْ يرُآءُوْنَ {}وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ{}
Artinya :
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat. Yang mereka itu lalai dari sholatnya. Yang mereka itu berbuat riya’. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.”(Al Ma’un : 4-7)
Maka oleh karena itu adalah sangat penting sekali mengetahui yang sebenarnya tentang ibadah itu.
Bagi hawa nafsu kita rasa-rasanya sangat berat dan sulit kita mengerjakannya dan pada saat-saat yang demikian, nyatalah bagiu kita akan kelemahan kita sendiri, oleh sebab itu pada kelanjutan ayat disebutkan:

وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ{}
Artinya :
“Dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”
Apabila kita memperhatikan secara cermat ayat tersewbut akan timbul pertanyaan: Apakah sebabnya kita lebih dahulu mengaku menyembah baru memohon pertongan? Sebab sebaik-baiknya meminta tolong dahulu sebelum bekerja.
Jawab yang sebaik-baiknya untuk hal itu, perhatikanlah nilai banding dari Syeikh Muhammad Abduh:”Seorang tani yang telah menghabiskan usaha dan tenaganya pada tanah ladangnya dengan membersihkan dan menyiram barulah ia minta tolong kepada Allah untuk menyempurnakan usahanya itu serta memeliharanya dari balak yang turun dari langit atau keluar dari bumi.”
Perumpamaan lain seperti seorang pedagang yang pandai dan mahir dalam perniagaanya sesudah melakukan usahanya barulah dia berserah kepada Allah.
Sebab itrulah “surat Al Fatihah” khususnya, Al Qur’anul Karim umumnya menjadi pedoman bagi perbuatan atau pekerjaan kita, baik di masalah-masalah dunia apalagi masalah-masalahakhirat.”Sekali-kali kita tidak boleh alpa dan lalai dari ajarannya.
Bukankah agama kita islam telah mewajibkan kepada kita membaca tujuh belas kali dalam sehario semalam (pada shalat wajib). Maksudnya adalah tindakan lain sebagai cambuk bagi kita agar kitamengerti benar bagaimana perilaku kita terhadap Allah Tuhan kita. Tidaklah semata-mata beserah diri kepada-Nya tetapi kita lakukan lebih dahulu usaha-usaha dan ikhtiar-ikhtiar barulah kita mohon bantuan dan pertolongan kepada-Nya di dalam segenap hal.
Perlu diperhatikan memohon pertolongan itu sewaktu mengerjakan thaat dan kebajikan. Padsa suatu hari Rasulullah SAW. Pernah memegang tangan Mu’ad lalu bersabda:

وَاللهِ اِنِّى َلاُحِبُّكَ اُوْصِيْكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَاعَنْ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ اَنْ تَقُوْلَ اللّهُمَّ اَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Artinya :
“Demi Allah! Sesungguhnya aku suka kepadamu. Saya berpesan kepadamu, hai Muadz : Jangan engkau tinggalkan di belakang tiap-tiap sholat mengatakan : “Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingati Engakau, mensyukuri Engkau dan berlaku bagus pada menyembah Engkau.”

Untuk lebih jelasnya perlu kita ketahui bahwa ayat IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA’IIN telah memberikan pengertian yang dlam dan luas bagi kita, berkenaan dengan hak dan kewajiban, dalam hal ini ialah hak Allah kepada hamba yang merupakan kewajiban hamba terhadap Allah dan hak hamba pada Allah yang berarti kepastian bagi Allah kepada hamba-Nya.
Disebutkan kemustian dan bukan kewajiban (kewajiban Allah kepada hamba-Nya) untuk meluruskan pengertian, seolah-olah adayang mewajibkan kepada Allah, yang demikian adalah tidak mungkin. Dan yang disebut kemustian disini bukanlah berarti ada yang memustikan kepada Allah, tetapi itu adalah sifat ketuhanan yang Mahasuci dari sifat kekutangan, sebab Allah yang Ar Rahman Ar Rahim yang juga Rabbul’alamiin dan yang Maaliki yaumiddiin, pasti tidak akan menyia-nyiakan amal perbuatan yang baik dari hamba-Nya akan diberi balasan kebaikan, baik di dunia maupun di akherat kelak. Banyak orang bingung m,anakah yang lebih dahulu, apakan hak lebih dahul;u atau kewajiban yang lebih dahulu.
Maka dari ayat IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA’IIN umat islam telah mendapat jawaban bahkan pedoman yang tiadak dapat di sangkal atau dirubah ketetapan-Nya oleh siapapun, dimanapun, dan kapanpun, bahwa kewajiban lebih dahulu harus dilaksanakan baru menuntut hak. Dan hal ini harus menjadi pedoman bagi umat islam sepanjang hayatnya dan sekali-kali jang dibalik, karena yang demikian memungkiri hati nurani kita sendiri dan akal sehat kita. Tegasnya, mengabdi lebih dahulu baru memohon pertolongan.

اِهْدِنَالصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ{}
Artinya :
“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” (Al Fatihah : 6)
“Hidayat” artinya “petunjukyang dilakukan denga lemah lembut”
Allah telah mengaruniakan kepada manusia berbagai-bagai hidayat, ada yang sifatnya Thabi’iyah (tabiat) di mana dengan hidayah inilah segenap hewan tahu mencari makannya dan menghindarkan kebinasaannya, anak-anak begitu lahir tahu menyusu ibunya, burung-burung dapat membuat sarangnya bahkan binatang lebah membuat rumahnya yang sangat menakjubkan sekali. Dan termasuk juga di bagian hidayah ini yang didapati oleh panca indra, seperti mendapat rasa panas, manisnya gula, lurusnya pohon kayu atau bengkoknya.
Kedua hidayah akal yang membedakan antara yang baik dan yang keji, yang bagus dan lawannya. Dengan hidayah akal ini kita dapat membetulkan kesalahan panca indra, umpamanya benda besar berjalan dengan cepat tetapi dilihat dari jauh kelihatan kecil dan diam. Kayu yang lurus di dalam air kelihatan bengkok, maka dengan hidayah akal ini dpatlah kita membedeakan dan menyalahkan kesalahan serapan panca indra itu.
Ketiga hidayah agama, tidak selamanya pendapat akalitu sesuai dengan hak (kebenaran). Oleh sebab itu banyak manusia yang menyia-nyiakan panca indra dan akalnya pada sesuatu yang membinasakan nafsu yang angkara murka. Oleh sebab itu perlulah manusia beroleh pendidikan agama yang akan mengemudikan akal dan panca indranya pada jalan yang diridloi Allah.
Syeikh Thanthawi menyebutkan hidayah ilmu—pada pendapat kami—hidayah ini tentu termasuk pada bagian agama, karena agama islam didasarkan pada ilmu pengetahuan.
Keempat, pendapat yang mahir, yang menunjuki seseorang itu terus mendapat semua ilmu dan masalah-masalah yang sudah dikenal. Termasuk juga kuat ingatan, mahir dalam segenap pekerjaan, ilham-ilham, keras fikiran dan wahyu yang tertentu untuk nabi0nabi. Maka dengan kita mohonklan kepada Allah dalam ayat ini ialah hidayah yang keempat, kecuali wahyu hanya khusus kepoada nabi-nabi saja. Karena inilah Allah mengingatkan kepada kita bahwa semestinyalah kita menghadapkan kepada-Nya, meminta atau memohon hidayah untuk membantu kita dalam melawan hawa nafsu kita.
Dimanakah waktunya kita memohonkan yang demikian itu? Ialah sesudah kita habiskan usaha dan fikiran kita untuk mempelajari dan mengenal nama-nama yang diturunkan kepada kita dari syareatdan hukum-hukum. Dan permohonan kita itu tak layak dihadapkan kepada siapa juga selain daripada kepada-Nya; sebab iotu dalam ayat di atas didahulukan: Akan Engakau kami menyembah dan akan Engkau kami memohon pertolongan,” tidak dengan “kami menyembah Engkau dan kami meminta pertolongan kepada Engkau.”

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِم
Artinya :
“Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.” (Al Fatihah : 7)
Kita memohon kepada Allah agar kita diberi-Nya hidayah kepada jalan yang benar, yakni satu jalan yang apabila kita jalani, niscaya kita mendapat kemuliaan dan ketinggian pada dunia dan kjalan yang menyampaikan kita kepada surga behagia dan utama di akherat.
Maka untuk menyatakan jalan manakah yang dimaksud itu, di ayat ini dapat ditegaskan dengan: “Jalan orang yang telah dianugerahi Allah dengan nikmat-Nya.” Adapun nikmat itu ada bermacam-macam yaitu pemberian Allah yang dianugerahkan Allah kepada kita baik yang tidak diusahakan atau yang diusahakan. Tetapi nikmat yang dikehendaki di sisni ialah nikmat akal dan hikmat, karena itulah nikmat yang setinggi-tingginya sebagaimana kata syeikh Thanthowi di dlam tafsirnya:
Siapakah yang dikehendaki dengan “yang telah mendapat nikmat itu?” Yaitu: Nabi-nabi, siddiqin (orang-orang yang benar), syuhada’ dan orang-orang yang shalih. Perhatikan firman Allah dalam surat An Nisa’ayat 69:


فَاُؤلئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ{}

Artinya :
“Mereka itu masuk golongan orang-orang yang dapat nikmat dari Allah beserta dengan nabi-nabi, orang-orang yang benar, orang-orang yang syahid dan orang-orang yang shalih.” (An Nisa’ :69)

Ayat ini disebutkan sesudah firman Allah :

وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًا{}

Artinya :
“Dan sesungguhnya Kami tunjuki mereka itu akan jalan yang lurus.” (An Nisa’ : 68)
غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضّالِّيْنَ
Artinya :
“Jalan orang-orang yang tidak dimurkai atas mereka dan tidak jalan orang-orang yang sesat.” (Al Fatihah :7)

Adapun yang dikehendaki dengan orang yang dimurkai dan yang sesat itu ialah Yahudi dan Nasrani( Musnad Ahmad dan Tirmidzi ).

Tentang orang yahudi Allah telah beriman
مَنْ لَعَنَهُ اللهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ
Artinya :
“Orang-orang yang telah dikutuki Allah dan yang dimurkai-Nya.” (Al Maidah : 60)
قَدْ ضَلُّوْا مِنْ قَبْلُ وَاَضَلُّوْا كَثِيْرًا وَّضَلُّوْا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيْلِ
Artinya :
“Sesungguhnya mereka telah sesat sebelum itu dan sudah banyak orang yang mereka sesatkan, dan telah sesat pula mereka dari jalan lurus.” (Al Maidah : 77)

(Tafsir Ar Rozy)
Ada pula sabda Nabi SAW
اِنَّ الْمَغْضُوْبَ عَلَيْهِمُ الْيَهُوْدُ وَاِنَّ الضَّالِّيْنَ النَّصَارَى
Artinya :
“Sesungguhnya orang-orang yang dimurkai itu porang Yahudi dan sesungguhnya orang-orang yang sesat itu orang Nashara.” (H.R. Ibnu Hibban dan dishahihkannya)
(Tafsir Jamal)

Tetapi ada yang menyebutkan qoul ini dhaif, karena kata mereka : orang yang ingkar akan adanya nikmat Allah atau orang musyrik lebih keji agamanya dari mereka, sebab itu lebih utama memohon dilindungi dari agama mereka. ( Tafsir Rokhrur Rozy)

Oleh sebab itu kata Tanthawi :” Ada yang menyebutkan orang yang mendapatkan nikmat itu orang yang taat dan yang dimurkai itu orang yang durhaka dan orang sesat itu orang jahil.”

Adapun yang dikehendaki orang yang durhaka itu orang yang keluar dari yang hak setelah lebih dahulu mngetahuinya, atau orang yang telah sampai kepada mereka hukum syareat, tetapi terus dibuangkannya dan tidak diterimanya meskipun cukup keterangan tetap berpaling, hanya menunjukkan dengan yang telah dipusakainya dari kata-kata orang saja. Dan yang jahil ialah orang yang sengaja tidak mengetahui yang hak sekali-kali. Orang yang sesat itu ada bermacam-macam:

1. Orang yang tidak sampai kepada mereka seruan agama, ataupun sampai tetapi seruan itu tidak sampai membawa mereka kepada berpikir atau memfikirkannya. Mereka ini tidak mendapat bagian hidayat selain hidayat panca indera dan akal, tetapi tidak dapat hidayah agama. Betul mereka tidak bersalah dalam bagian penghidupan di dunia, tetapi mereka tetap merugi dalam keselamatan ruh dan bagian hidup di akhirat, karena pekerjaan agama yang yang sah ialah yang sanggup memimpin si pemeluknya ke arah kebahagiaan dunia dan akhirat.
Adapun di akherat Allah akan memaafkan mereka sebab Allah berfirman:

وَمَا كُنَّا مُعَذَّبِيْنَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُوْلاً
Artinya :
“Dan tidak kami menyiksa sehingga kami mengutus seorang rasul.”(Al Isra’ : 15)

2. Orang yang sampai kepadanya seruan, dan sampai membawanya berfikir, terus iapun mempergunakan Himmahnya ( kemauan keras) dengan bersungguh-sungguh memikirkannya tetapi ia tidak dapat tauhid hingga habis umurnya ia tetap mencari-cari kebenaran juga. Orang yang seumpama ini menurut kata setangah ulama Asy’ari : “masih diharapkan rahmat Allah kepadanya,” tetapi menurut jumhur : orang ini tetap disiksa juga dengan siksa yang lebih ringan daripada orang yang ingkar.

3. Orang yang sampai kepadanya risalat dan terus dibenarkannya dengan tidak menilik kepada kepada dalilnya dan tidak berdiri di atas usul-usulnya, kemudian mereka mengikuti saja menurut kemauan-kemauan hawa nafsunya untuk memahamkan yang diterangkan pokok-pokok aqoid itu. Mereka inilah yang paling banyak mengadakan bid’ah dalam agama. Dengan sebab yang demikian dan yang lain-lain lantas I’tikat mereka berpaling dari yang diterangkan Al-qur’an dan pegangan ulama-ulama yang shahih, sehingga terjadilah partai-partai yang sangat sesat lagi menyesatkan dalam agama, seperti : partai Rfaidhi, Ismaili dan pada masa yang akhir ini timbul pula partai Ahmadiyah Qadani dan lain-lain.

4. Orang-orang yang sesat dalam amalan dan memakai hukum-hukum dari apa yang telah diatur syareat. Seperti tersalah dalam memahamkan makna shalat dan lain-lainnya. Pendeknya mereka yang tersalah dalam furu’ agama dengan maksud meringan-ringankan atau yang dinamakan talfiq dalam agama, yakni mencari-cari mana yang seringan-ringannya dan yang seenteng-entengya.
آمِيْنَ
Artinya :
“Perkenankanlah Ya Allah!”
َويَسْتَعجِلُوْنَكَ بِالسَّيِّئَةِ وَقَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمُ الْمَثُلاَتُ وَاِنَّ رَبَّكَ لَذُوْ مَغْفِرَةٍ لِّلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَاِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيْدُ الْعِقَابِ
Artinya :
“Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa, sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksanya.”(Ar Raad :6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: