Menghindari Berlebihan dan Menumbuhkan Kedermawanan

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan. (QS Al Isra’ 17: 26-27) Imam Tirmidzi meriwayatkan bahwa suatu hari para sahabat menyembelih seekor kambing, lalu Rasulullah saw bertanya kepada istrinya Aisyah ra: “Apa yang masih tersisa dari kambing itu?” Aisyah menjawab: “Tidak ada yang tersisa selain sampil depan.” Rasulullah saw mengatakan: “Semua masih ada selain sampil depan itu.” Beliau mengajarkan konsep kepemilikan yang hakiki, yakni konsep kepemilikan harta yang bersifat abadi. Apa saja yang kita nafkahkan di jalan Allah, termasuk mensedekahkan daging kepada tetangga kita, maka harta yang kita sedekahkan akan menjadi tabungan kita, menjadi milik kita dalam kehidupan yang kekal di akherat. Yang habis hanya sepotong yang dimakan sendiri.Saat ini sebagian besar manusia lebih mencintai harta kekayaan dunia daripada akherat. Mereka bangga dengan banyaknya harta, tingginya pangkat atau jabatan, dan banyaknya wanita yang mereka ajak kencan. Hari-hari mereka disibukkan oleh urusan mengejar materi. Seolah tidak ada topik yang lebih asyik dibicarakan daripada harta, tahta, dan wanita. Setelah mereka mendapatkan harta itu, mereka akan hamburkan untuk memuaskan hawa nafsu. Mereka lebih memilih kenikmatan dunia meskipun hanya bersifat sementara daripada kebahagiaan yang kekal di akherat. Tanpa disadari pola kehidupan hedonisme telah menguasai kehidupan mayoritas umat Islam. Mereka nafkahkan harta secara berlebihan untuk keperluan pribadi, sementara itu tidak sensitif terhadap penderitaan yang dialami tetangga. Padahal Rasulullah saw bersabda tidak beriman kamu yang melewati malam dengan perut kenyang sementara tetangganya lapar (HR Thabrani). Apalagi luma lapar, ada orang yang sudah mati membusuk beberapa hari saja ada tetangga yang tidak tahu. Kepedulian kepada kerabat, tetangga dekat dan sesama saudara seiman semakin langka. Padahal untuk menumbuhkan rasa solidaritas beliau mengajarkan bahwa: “Sepiring cukup untuk berdua dan dua piring cukup untuk berempat.” Semua pelajaran di atas menandaskan betapa pentingnya menumbuhkan kesalehan sosial. Dalam bulan Ramadhan seperti ini kedermawanan Rasulullah saw meningkat tajam. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa kedermawanan beliau seperti angin yang berhembus. Di dalam QS Al Ma’un 107: 1-3 Allah swt menandaskan bahwa orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin sebagai orang yang mendustakan agama. Kedermawanan yang diajarkan Islam berbeda dengan perilaku boros dan berlebihan yang diajarkan setan. Sekecil apapun harta yang kita belanjakan di jalan setan akan termasuk pemborosan atau berlebihan. Sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari orang membeli barang bukan karena fungsi tetapi karena gengsi. Bahkan ada juga yang membeli barang bukan karena kebutuhan tetapi karena persaingan. Merasa dirinya lebih mampu daripada tetangganya yang membeli suatu barang, maka dia merasa tertantang untuk membelinya juga. Harta yang dikeluarkan karena riya’ ini berapapun besarnya akan termasuk ke dalam kelompok berlebihan. Untuk itu mestinya Amat Islam berhati-hati dalam mencari dan menafkahkan hartanya. Tentang harta Allah akan bertanya min ainaktasabahu wa fima anfaqahu (dari mana dia mendapatkannya dan untuk apa dia menafkahkannya). Sementara ini orang-orang yang tinggal di kota banyak mengeluarkan harta untuk menjaga imej (JAIM). Jelas menurut kacamata Islam perilaku seperti ini termasuk riya’ dan uang yang dibelanjakan untuk itu termasuk berlebihan. Padahal Allah sudah mengingatkan supaya manusia tidak menghamburkan harta secara boros, karena para pemboros adalah saudara setan (QS Al Isra’ 17: 26-27). Sedang di kampung –kampung sering terjadi keluarga mengangkat beban di luar kemampuan. Mereka melakukan resepsi pernikahan dengan biaya mal, sehingga jatuh terjerat hutang. Mereka bangga ketika sumbangan yang diterima lebih banyak dari biaya yang mereka keluarkan. Namur sebaliknya akan Sangay berduka dan diam seribu basa ketika mengalami kerugian dan harus menaggung beban hutang. Perilaku berlebihan akan menyengsarakan hidup di dunia, sedang di akherat perilaku seperti itu masih harus dipertanggung jawabkan. Di sisi lain dalam sedekah fi sabilillah tidak ada kata berlebihan. Suatu hari Umar bin Khaththab datang berinfak dengan separoh hartanya. Saat itu dia merasa bangga karena infaknya melebihi infak Abu Bakar. Padahal selama ini tidak pernah begitu. Namun ketika Rasulullah saw berdialog dengan mereka akhirnya terungkap bahwa Abu Bakar berinfak dengan seluruh harta kekayaan yang dia miliki, sedang Umar hanya berinfak dengan separoh hartanya. Juga tercatat dengan tinta emas kisah kedermawanan Abdurrahman bin Auf seorang pejuang sekaligus pengusaha sukses. Dia pernah menginfakkan 700 ekor onta beserta seluruh dagangannya kepada baitul-mal lantaran khawatir harta tersebut akan membuatnya masuk sorga dengan merangkak. Semua itu buah dari keteladanan yang diberikan oleh Rasulullah saw yang dikatakan oleh salah seorang sahabat kalau bersedekah seperti orang yang tidak pernah takut akan miskin. Dari uraian di atas kita dapat simpulkan bahwa harta hanya bisa dinafkahkan pada dua jalan yakni jalan Allah atau jalan setan. Sekecil apapun harta yang kita keluarkan di jalan setan akan termasuk pemborosan, termasuk perilaku berlebihan yang harus kita hindarkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: