Golongan yang selamat: Menjauhi Perdukunan

Monday, 01 September 2008

قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS An Naml 27: 65)

Istilah dukun yang kita pakai di Indonesia sering dipergunakan untuk menterjemahkan arraf dan kahin dari bahasa Arab. Arraf adalah orang yang dianggap mengetahui secara ghoib sesuatu yang sedang terjadi, sehingga dia sering dimintai pertolongan untuk mencarikan barang ata orang yang hilang. Sedang kahin mirip dengan arraf tetapi dianggap pula mampu mengetahui secara ghoib apa yang akan terjadi di masa mendatang. Orang yang mempercayainya, menganggap kemampuan itu diperoleh karena kerja sama antara dukun tersebut dengan setan.

Rasulullah saw melarang umatnya mendatangi arraf dan menanyakan sesuatu kepadanya. Beliau memberitahu bahwa bila seseorang datang kepada arraf dan menanyakan sesuatu kepadanya maka sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari (HR Muslim). Beliau sangat berhati-hati dalam membentengi umatnya agar tidak tertipu dan terjatuh ke dalam jurang syirik. Arraf yang mengaku mengetahui secara ghoib apa yang sedang terjadi di tempat lain itu jelas berbohong, karena Allah sendiri berfirman bahwa tidak ada seorangpun di langit dan di bumi ini yang mengetahui yang ghoib kecuali Allah (QS An Naml 27: 65). Maka orang yang yang mengaku mengetahui yang ghoib, pasti dia telah bohong. Orang beriman tidak layak menjadi bulan-bulanan para pembohong, maka mereka yang datang kepada arraf diancam sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari.

Terhadap orang yang mendatangi kahin ancamannya lebih berat lagi. Mereka yang datang kepada kahin dan membenarkan ucapannya, maka dia dianggap telah kafir terhadap Al Qur’an (HR Ahmad). Kahin membohongi orang yang mempercayainya dengan memberikan kesan bahwa dirinya mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang. Dia mengeluarkan banyak ramalan-ramalan dan kalau ada satu saja ramalannya yang benar lalu dia blow up di media masa. Juga dengan menggunakan antek-anteknya yang banyak dia menyebarkan berita bohong tentang kehebatannya. Padahal semua itu bohong dan palsu. Rasulullah saw sebagai kekasih Allahpun tidak mengetahui yang ghoib. Kalau aku mengetahui yang ghoib niscaya aku akan berbuat kebajikan yang banyak dan tidak akan ditimpa kemadlorotan (QS Al An’am 6: 188). Padahal beliau pernah terluka cukup parah dalam perang Uhud.

Lebih berbahaya lagi selain mengandung resiko tertipu oleh para dukun maka orang yang mendatangi dukun juga menanggung resiko berbuat syirik. Allah sendiri berfirman bahwa yang mengetahui yang ghoib itu hanya Allah (QS An Naml 27: 65) dan tidak akan memperlihatkan yang ghoib kepada seorangpun kecuali kepada rasul yang diridloinya (QS Al Jin 72: 26-27). Maka kalau kita percaya ada orang yang mengetahui yang ghoib padahal dia bukan rasulullah, berarti dia telah berbuat syirik. Padahal dosa syirik itu termasuk dosa besar dan dosa ini tidak akan diampuni (QS An Nisa 4: 48), bahkan dosa itu menghapus semua amal sholeh yang telah kita lakukan (QS Al An’am 6: 88).

Selain itu di negeri kita berkembang adanya orang yang mengaku sebagai dukun tenung, dukun santet dan sejenisnya. Mereka dianggap dapat mengirimkan tenung atau santet yang dapat mencelakakan fisik orang lain. Bahkan dipercaya dapat membunuh jarak jauh. Semua pengakuan dan anggapan itu tidak ada benarnya sama sekali. Al Qur’an dan As Sunnah tidak pernah memberitakan adanya santet dan tenung seperti itu. Memang Allah memberitakan adanya sihir, tetapi yang dimaksud sihir itu tidak seperti tenung dan santet. Namun lebih dekat kepada sulap. Sahara yasharu artinya membelokkan. Segala sesuatu yang membelokkan dengan konotasi negatif termasuk sihir. Dalam konteks sulap ketrampilan tangan pesulap menjadikan kita memandang sesuatu yang di luar perkiraan. Begitu pula kata-kata fitnah yang dilemparkan kepada seorang suami tentang istrinya yang dituduh serong dapat menghancurkan rumah tangga. Kata-kata fitnah itu termasuk sihir.

Disamping arraf, kahin, dan ahli sihir Rasulullah saw juga menentang munajim atau ahli nujum yang menghubungkan antara pergerakan benda-benda angkasa seperti bulan, bintang, dan matahari dengan perintiwa yang terjadi di bumi. Padahal anak-anak muda saat ini sangat getol dengan ramalan bintang (astrologi/kosmologi) yang dikaitkan dengan perjodohan, keberuntungan dan sejenisnya. Semua itu tidak ada benarnya sama sekali. Ketika nabi Isa as lahir menurut keyakinan orang-orang nasrani kelahirannya ditandai oleh kemunculan bintang timur. Tentu saja keyakinan yang demikian itu tidak bisa diterima oleh ajaran Islam. Suatu saat putra Rasulullah saw yang bernama Ibrahim meninggal dunia. Saat itu terjadi gerhana matahari. Maka para sahabat menghubung-hubungkan antara ke dua peristiwa itu dan Rasulullah saw mendengarnya. Segera beliau berpidato di atas mimbar. Setelah memuji dan menyanjung Allah beliau mengatakan bahwa: “Sesungguhnya matahari dan bulan itu termasuk tanda-tanda kebesaran Allah. Tidak akan terjadi gerhana pada keduanya karena hidup dan matinya seseorang” (HR Bukhori – Muslim). Betapa modern dan logisnya pernyataan beliau. Padahal pernyataan ini pernyataan kuno yang dikeluarkan sekitar 1400 tahun yang lalu. Mengapa kita yang hidup di jaman ultra modern ini banyak yang masih berpikiran kuno? Masih percaya kepada ahli nujum? Na’udzubillah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: