Lubang Biawak

Rasulullah saw pernah bersabda yang mafhumnya:
“Sungguh, kamu akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga sekalipun mereka masuk ke dalam lobang biawakpun kamu akan mengikuti mereka juga.” Para sahabat berrtanya:”Apakah mereka orang Yahudi dan Nasrani?” Jawab Rasulullah:”Siapa lagi.”
Rasulullah saw karena fathonahnya, mampu memperkirakan dengan ketepatan yang tinggi apa yang bakal terjadi pada umatnya. Sebenarnya umat Islam sangat beruntung dipimpin oleh Rasul saw yang memiliki ketajaman penglihatan demikian tinggi. Seharusnya ramalan itu segera diantisipasi dengan baik sehingga meski umat lain benar-benar terjerumus ke dalam lobang biawak, hal itu tidak perlu terjadi pada kita. Sayang ramalan itu telah dianggap sebagai satu keniscayaan yang mesti terjadi di tengah-tengah kita, sehingga kita lengah dan ramalan itupun benar terbukti dengan disertai berbagai konsekuensi negatifnya.
Kalau ada di antara orang Yahudi yang rakus harta seperti kera yang hina, di antara umat Islampun juga ada. Kalau di antara orang Yahudi banyak yang tidak faham akan kitabnya, seperti keledai, maka di antara umat Islampun banyak yang beramal hanya karena taqlid, bukan karena ilmu. Kalau banyak di antara orang Nasrani yang keras hatinya karena jauh dari kitabnya, maka di antara umat Islampun banyak yang hatinya membeku seperti batu, tak mempan diingatkan dengan ayat-ayat Allah. Kalau ada di antara orang Nasrani yang mendewakan pendetanya, di antara umat Islampun banyak yang mendewakan kyainya. Kalau sudah demikian lalu apa bedanya kita dengan mereka? Peringatan Rasulullah saw yang mestinya kita sikapi dengan sami’na wa atho’na itu ternyata hanya kita dengar lalu kita ingkari (ashoina).
Baiklah, yang sudah ya sudah. Mulai saat ini mari kita umat Islam yang diperintah Allah untuk menjadikan Al Qur’an sebagai Imam benar-benar kita laksanakan. Sorotkan sinar Al Qur’an ke depan sebelum kita melangkah. Konsultasi, tanya dulu kepada Al Furqon, baru kita melangkah. Tidak layak kita sebagai umat terbaik yang mestinya memberi contoh kebaikan kepada orang lain justru hidupnya hanya sekedar ikut-ikutan. Mengikuti arus tidak punya kekuatan, seperti buih, na’udzubillah.
Rujukan kita adalah Al Furqon. Soal narkoba, tanya dulu Al Furqon. Apa dia bilang, budaya kafir? Kita tinggalkan. Pornografi dan pornoaksi, apa kata Al Furqon? Budaya jahiliyyah? OK, talak tiga untuk pornografi dan pornoaksi. Menipu, berbohong, curang, tidak amanat, apa kata Al Furqon? Itu kebiasaan munafik. Sayonara, kita punya cara hidup yang lebih mulia. Valentine’s day? No way, itu budaya baru yang disusupkan oleh para pengumbar hawa nafsu.

Dengan membiasakan sikap seperti ini, insya Allah umat Islam akan memiliki pendirian yang tangguh dalam beramal dengan ilmu yang benar, Al Furqon. Tidak hanya sekedar ikut-ikutan yang akhirnya menjadi penyesalan selama-lamnya, fiidunya wal-akherat. (MH, RMN)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: