Mengenal Allah melalui ilmu dan amal

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: :Jika kamu mencintai Allah,ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 3: 31)


Rasulullah saw pernah mengingat-kan: “Tafakkaruu fii khalqillaahi wa laa tafakkaaruu fii dzaatillahi.” (Kamu sekalian berfikirlah tentang ciptaan Allah dan jangan fikirkan tentang dzat Allah.) Peringatan ini sejalan dengan banyak ayat-ayat Allah yang memerintahkan umat Islam untuk memikirkan alam semesta beserta apa yang ada di dalamnya. Tentang penciptaan alam, tentang langit dan bumi, tentang gunung, tentang air hujan, tentang onta, binatang ternak, tentang tanam-tanaman, tentang bahtera yang berlayar di lautan, bahkan tentang diri manusia sendiri.

Sebaliknya peringatan itu menasehatkan kepada kita semua untuk tidak buang-buang waktu memikirkan tentang dzat Allah. Mengapa? Karena tidak akan berbuah apapun selain kekecewaan. Jangkauan kemampuan akal kita hanya terbatas pada domain empiris saja, tidak mampu menjangkau hal-hal yang bersifat ghaib. Karena dzat Allah itu adalah ruh, dan ruh itu bersifat ghaib, sedang tidak ada makhluk yang dapat menjangkau yang ghaib (QS 27: 65), maka sia-sia kalau manusia memikirkan dzat Allah.

Sebaiknya energi yang dimiliki dipergunakan untuk memikirkan ciptaan Allah, sifat-sifat Allah, dan kebesaran Allah.Orang-orang beriman yang memikirkan dengan sungguh-sungguh tentang ciptaan Allah akan sampai pada kesimpulan: Rabbanaa ma khalaqta hadza baathila .(Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia.) Dia akan mampu melihat keindahan dan kemanfaatan apa yang dipikirkannya. Dia akan mampu melihat keagungan Dzat yang telah menciptakannya. Dia akan semakin menyadari betapa besarnya peran Allah terhadap kehidupan dan kesejahteraan manusia. Dia akan semakin melihat betapa rentan, lemah, dan kecilnya manusia tanpa campur tangan Allah dalam kehidupannya. Secara langsung maupun tidak langsung dia akan semakin mengenal Allah. Semakin tinggi tingkat kefahaman akan peran Allah dalam kesejahteraan hidup manusia dan semakin tinggi tingkat kesadaran akan ketergantungan manusia kepada Allah akan semakin meningkatkan rasa syukur manusia kepada Allah rabbul’alamiin. Situasi seperti inilah yang akan semakin meningkatkan rasa cinta manusia kepada Allah. Benar kata pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang.

Di sisi lain rasa syukur akan karunia dan kebesaran Allah biasa terucap melalui bacaan hamdalah dalam bentuk pujian kepada Allah. Dalam hal ini Syekh Thanthawi Jauhari mengatakan bahwa seseorang memuji Allah sesuai dengan tingkat pengetahuan yang dimilikinya atas sifat dan kebesaran Allah. Semakin tinggi ilmu dan semakin luas pengetahuannya tentang alam ini akan dalam rasa syukurnya kepada Allah. Orang yang memuji orang lain padahal dia tidak memiliki pengetahuan tentang orang yang dipujinya, maka pujiannya itu tidak lebih dari sekedar dusta.

Pepatah jawa mengatakan witing tresno jalaran saka kulina (Tumbuhnya rasa cinta disebabkan karena pembiasaan). Dan memang demikianlah seseorang tidak akan dapat menikmati indahnya bersedekah kalau dia tidak membiasakan diri bersedekah apalagi tidak pernah bersedekah. Orang yang mebiasakan diri bersedekah, membiasa-kan diri membantu orang lain, maka akan muncul di dalam hatinya rasa senang ketika dapat membantu orang lain. Sedang orang yang tidak pernah dan tidak mau membantu orang lain akan selalu merasa keberatan bila terpaksa harus membantu orang lain. Allah berusaha menumbuhkan kesadaran beramal dalam diri manusia dengan firman-Nya yang tertulis di atas (QS 3: 31).

Sedang Rasul yang harus diikuti amalannya adalah seorang figur yang banyak beramal, yang selalu membiasakan diri beramal shaleh kapan saja dan dimana saja beliau berada. Shalat malam yang beliau amalkan tidak menambah kecuali keluhuran budinya. Puasa yang beliau amalkan tidak menambah kecuali ketakwaan. Kedermawanan yang beliau amalkan tidak menambah kecuali kecintaan orang-orang yang berada di sekitarnya. Keberaniannya dalam melangkah di jalan Allah dan kesungguhannya dalam ber-amal tidak menambah kecuali ketakutan dari orang-orang yang memusuhinya. Kegigihan, keuletan, kelemah-lembutan dan kasih sayangnya tidak menambah kecuali penghormatan dan kewibawaan dari para sahabatnya. Sosok kharismatik yang banyak beramal seperti inilah yang dijadikan Allah sebagai teladan bagi umat manusia untuk diikuti agar lebih mengenal Allah swt.

Umar bin Khaththab adalah sosok rasional yang banyak amal. Allah mendatangkan hidayah kepadanya karena dia mempergunakan akalnya untuk memikirkan beberapa ayat dari surat Thaha yang dibacakan kepadanya sesaat sebelum menyatakan keislamannya. Pertimbangan rasionalnya kadang bertentangan dengan pendapat Rasulullah namun justru pernah dibenarkan Allah, seperti pertimbangan yang diberikannya atas sikap yang sebaiknya diambil terhadap tawanan perang Badar.

Sampai-sampai Rasulullah saw memujinya dengan mengatakan bahwa: Allah menjadikan kebenaran di hati dan lidah Umar. Bahkan Rasulullah pernah bersabda bahwa bila ada nabi lagi sesudahku dialah Umar, tetapi tidak ada nabi sesudahku.

Pertimbangan manapun yang kita utamakan, akal (ilmu) atau amal, tidak menjadi masalah yang penting dapat menjadikan diri kita lebih mengenal Allah. Semoga Allah swt senantiasa membimbing kita untuk gemar menuntut ilmu dan banyak beramal.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: